Demikianlah, berbagai propaganda menemui kegagalan dan tenggelam.

Kekuatan kebenaran yang diserukan Rasul saw dengan amat gamblang, dan tampak pada lidah beliau, mengungguli seluruh propaganda busuk.

Cahaya Islam yang baru terbit mampu mencerai- beraikan semua isyu dan propaganda.

Karena itu, Quraisy beralih pada senjata ketiga, yaitu pemboikotan dan mereka sepakat untuk memboikot Rasul dan para kerabatnya.

Mereka membuat perjanjian tertulis, yang isinya memboikot Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib secara total.

Quraisy tidak akan melakukan pernikahan dengan mereka juga kalangan Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib tidak boleh menikahi mreka.

Quraisy tidak akan menjual komoditas apapun kepada mereka dan tidak pula membeli apapun dari mereka.

Mereka menempelkan naskah perjanjian tersebut di bagian dalam Ka’bah dengan diberi penjelasan tambahan serta piagam.

Mereka meyakini bahwa strategi pemboikotan tersebut akan berpengaruh lebih besar dari pada dua strategi sebelumnya yaitu penyiksaan dan propaganda.

Masa pemboikotan berlangsung selama tiga tahun dan mereka menunggu apakah Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthallib akan meninggalkan Muhammad juga apakah kaum Muslim mau meninggalkan keislaman mereka.

Sehingga Muhammad akan benar-benar sendirian dengan kemungkinan dia akan meninggalkan dakwahnya atau dakwahnya tersebut tidak lagi berbahaya baik bagi Quraisy maupun agama mereka.

Hanya saja, hal tersebut tidak berpengaruh sedikitpun pada Rasul saw, melainkan makin berpegang teguh kepada tali agama Allah, makin kuat menggengam agama Allah dan semakin bersemangat di jalan dakwah mengajak manusia kepada Allah.

Demikian juga kekuatan dan keteguhan orang-orang Mukmin yang menyertai beliau tidak surut. Penyebaran dakwah Islam di kota Makkah dan di luar Makkah tidak mengalami kemunduran yang berarti.

Hingga akhirnya kabar pemboikotan kafir Quraisy pada Muhammad sampai ke telinga suku-suku Arab yang berada di luar Kota Makkah.

Akibatnya, dakwah mencuat keluar dan tersebar luas di tengah-tengah kabilah- kabilah Arab, demikian juga penyebutan nama Islam menyebar luas di Jazirah.

Para musafir sering membicarakan pemboikotan itu, walau demikian aksi boikot terus berlangsung dan kelaparan terjadi di mana- mana.

Sementara itu naskah pemboikotan yang telah dicanangkan kafir Quraisy masih berlangsung realisasinya. Rasul dan seluruh keluarganya berlindung di bukit-bukit pinggiran kota Makkah.

Mereka didera berbagai penderitaan, kelaparan, kekurangan, kefakiran, dan kesempitan. Hampir saja mereka tidak mendapatkan sarana apapun yang dapat mendukung kelemahan mereka.

Begitu juga tidak ada satu kesempatan pun bagi mereka untuk berkumpul dan berbincang dengan masyarakat, kecuali pada bulan-bulan yang dimuliakan saat Rasul Saw berada di Ka’bah.

Beliau dalam kesempatan tersebut selalu mengajak bangsa Arab menuju agama Allah dan memberi kabar gembira kepada mereka dengan pahala dari-Nya, serta memberikan peringatan keras kepada mereka dengan siksaaan dan azab dari-Nya.
Setelah itu beliau kembali ke bukit-bukit.

Kasus ini membangkitkan simpati bangsa Arab kepada kaum Muslim. Bahkan, di antara mereka ada yang menerima dakwah Islam. Ada juga yang mengirimkan makanan dan minuman secara sembunyi- sembunyi.

Hisyam bin ‘Amru biasa datang dengan membawa unta — yang membawa makanan dan gandum— yang dia tuntun pada tengah malam, hingga sampai ke perbukitan tersebut.
Di sanalah dia melepas tali kekang untanya, kemudian dia pukul perut untanya sehingga pergi sendiri ke arah bukit. Kaum Muslim menangkap unta tadi dan membagi- bagikan muatannya, sedangkan untanya mereka sembelih dan dagingnya mereka makan bersama-sama.

Keadaan tersebut terus berlangsung selama tiga tahun berturut-turut, hingga dunia terasa menghimpit mereka hingga Allah mengirimkan kemudahan dan pemboikotan itu pun berakhir.

Lima pemuda Quraisy, yaitu Zuhair bin Abi Umayah, Hisyam bin ‘Amru, Muth’im bin ‘Adi, Abu al-Bukhturi bin Hisyam, dan Zam’ah bin al-Aswad berkumpul dan membahas tentang naskah perjanjian dan masalah pemboikotan.

Mereka semuanya marah, antara satu dengan lainnya menampakkan kemurkaan. Kemudian mereka sepakat dan berjanji untuk membatalkan perjanjian tersebut dan merobek-robek naskahnya.

Pada hari berikutnya, mereka pergi bersama menuju Ka’bah, tiba-tiba Zuhair datang dan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali kemudian dia berteriak menyeru manusia, “Wahai penduduk Makkah, kenapa kita makan minum dengan senang dan berpakaian bagus, sedangkan Bani Hasyim mengalami kebinasaan.

Mereka dilarang berdagang dan berjual beli. Demi Allah, aku tidak akan duduk hingga naskah pemboikotan yang zalim ini tercabik-cabik!”.

Abu Jahal hampir tidak kuat mendengar hal itu lalu berteriak dengan keras, “Kamu bohong! Demi Allah, jangan kamu robek!” Tiba-tiba dari beberapa sisi Baitullah terdengar teriakan bersahut-sahutan.

Zam’ah, Abu al-Bukhturiy, Muth’im, dan Hisyam, semuanya mendustakan Abu Jahal dan mendukung Zuhair. Sejak saat itu Abu Jahal menyadari bahwa pemboikotan telah berakhir pada malam itu juga.

Kebanyakan orang Arab menyetujui penghapusan pemboikotan itu. Perlawanan mereka (suku-suku Arab) telah membangkitkan berbagai upaya buruk dan jahat, sehingga dalam diri Abu Jahal timbul rasa takut, yang memaksanya introspeksi.

Muth’im segera merobek naskah perjanjian tersebut, dia mendapati naskah perjanjian itu telah dimakan rayap, kecuali bagian awalnya yang berbunyi:
Bismika Allaahumma.
Dengan demikian, kesempatan bagi Rasul saw dan para sahabatnya kembali terbuka untuk turun dari daerah perbukitan menuju kota Makkah.

Rasul dan kaum Muslim atas pertolongan Allah berhasil mengakhiri pemboikotan dan mereka kembali sehingga beliau saw dapat melanjutkan aktivitas dakwahnya, hingga jumlah kaum Muslim bertambah banyak.

Demikianlah, berbagai langkah Quraisy dalam bentuk penganiayaan, propaganda, dan pembaikotan telah gagal dan tidak mampu memaksa kaum Muslim meninggalkan agamanya.

Aksi tersebut tidak berhasil menghentikan Rasul dari dakwahnya, hingga Allah SWT memenangkan dakwah Islam meski dihadang oleh berbagai kesulitan dan siksaan.

Oleh : Eko Budi Cahyono
Sumber : Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam

Advertisements