Ajaran Islam yang dibawa Rosulullah ﷺ begitu berkembang pesat hingga akhirnya setelah melalui perkembangan zaman masuklah Islam di Indonesia. Akan tetapi Islam di Indonesia waktu itu masih bercampur dengan kultur agama hindu yang memang pada waktu sebelum Islam masuk, masyarakat Indonesia memeluk agama Hindu. Hingga pada tahun 1868 lahirlah seorang anak dari kalangan priayi yang bernama Muhammad Darwis di Kauman Yogyakarta yang kemudian lebih dikenal dengan KH. Ahmad Dahlan. Setelah beliau menimba ilmu di Mekkah, beliau pulang ke kampung halaman dan melihat kemunduran Islam di tanah air khususnya di Yogyakarta. Akhirnya beliau merasa ada tanggung jawab yang besar untuk bisa memajukan, membangun dan menggerakkan masyarakat dengan tetap berpedoman pada al-Qur’an dan al-Hadits. Beliau sadar bahwa kewajiban ini tidak mungkin dilaksanakan sendiri melainkan harus jalan bersama-sama.

Untuk membangun upaya dakwah tersebut KH. Ahmad Dahlan gigih dalam membina angkatan muda yang selanjutnya turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwah tersebut, dan juga untuk meneruskan seta melangsungkan cita-citanya dalam membangun dan memajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan dan ketertinggalan umat Islam di Indonesia. Sebelum dakwah terjun ke masyarakat, KH. Ahmad Dahlan membekali terlebih dahulu para pengikut beliau yang dalam hal ini banyak dari kalangan muda dengan Ilmu agama terlebih dahulu. Beliau benar-benar mengkader mereka agar nantinya saat berdakwah ke masyarakat luas, mereka mempunyai Ilmu agama yang mumpuni, juga untuk memperkuat iman mereka agar kokoh dalam menghadapi segala rintangan.

Banyak perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh KH. Ahmad Dahlan, diantaranya : mengoreksi arah kiblat dari arah barat menuju arah barat laut, menyeru kepada para wanita untuk menutup aurat, mendirikan sekolah berbasis modern, sampai pada pendirian organisasi Muhammadiyah yang sampai saat ini terus berkembang lebih dari 100 tahun. Pembaruan ini semua dianggap sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat, bahkan beliau sampai dikucilkan, dianggap kafir dan membawa agama baru. Akan tetapi beliau dan para pengikutnya tidak gentar dengan rintangan yang ada dan terus berdakwah dengan membawa kemajuan dalam beragama.

Ada banyak cara atau teori yang diajarkan KH. Ahmad Dahlan kepada murid-murid beliau. Diantara teori-teori itu ada dua ajaran yang sangat mendasar bagi beliau yaitu teologi al-Ma’un (diambil dari surat al-Ma’un) yang beliau ajarkan selama 3 bulan, dan teologi al-‘Ashr (diambil dari surat al-‘Ashr) yang beliau ajarkan selama 8 tahun. Secara garis besar teologi al-Ma’un mempunyai tiga prinsip yaitu : pendidikan, kesehatan dan social. Oleh karenanya KH. Ahmad Dahlan dan para pengikut nya sangat memperhatikan pendidikan masyarakat khususnya orang tidak mampu , begitu juga dengan kesehatan mereka, dan juga bagaimana berinteraksi sosial dengan masyarakat. Beliau juga memperhatikan anak-anak yatim, karena dalam surat al-Ma’un disebutkan bahwa orang yang melantarkan anak yatim adalah termasuk yang mendustakan agama.

Selain teologi al-Ma’un juga ada teologi al-‘Ashr yang secara garis besar mempunya empat unsur antara lain : iman (paradigm tauhid), amal saleh (kerja-kerja peradaban), tawasul bilhaq (Ilmu pengetahuan), tawasau bissobr (moralitas). Dua ajarang tersebut sangatlah berhubungan, bagaimana keimanan sebagi dasar utama atau pondasi pokok yang harus dimiliki oleh seorang muslim yang kemudian dari sana akan menghasilkan amal saleh yang berjalan di bidang kesehatan, pendidikan atau sosial bermasyarakat.

Ini lah yang mendasar dari ajaran KH. Ahmad Dahlan yang lenajutnya diikuti oleh para pengikutnya dan digunakan untuk berdakwah kepada masyarakat luas. Dengan dasar ini juga mereka semua tak gentar melawan rintangan yang sangat besar, dan menjadikan hati dan keimanan mereka sangat kuat untuk membela dan menegakkan agama Islam yang sesuai dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, hingga saat ini ajaran dari beliau terus berkembang dengan diwadahi oleh Muhammadiyah yang terus mengajak umat Islam untuk menjadi seorang muslim yang berkemajuan. Wallahu a’lam bissowab

 

akhukum fillah : Hidayaturrokhman

Advertisements