Dalam berdakwah tentu tak luput dengan sebuah kaderisasi, karena dengan kaderisasi ini akan menjadikan dakwah kita berkembang dan berkelanjutan. Kaderisasi dalam dakwah ini sudah diciptakan dari masa Rosulullah Muhammad ﷺ hingga saat sekarang ini yang akan dikerucutkan mada zaman KH. Ahmad Dahlan. Bagaimana secara garis besar seni Rosulullah ﷺ dan KH. Ahmad Dahlan berdakwah dan mengkader para pengikutnya akan tertuang dalam tulisan ini.

Secara garis besar dakwah dan pengakderan Rosulullahﷺ dibagi menjadi dua yaitu : di Mekkah dan di Madinah. Beliau melaksanakan fungsi dakwah ini tidak kurang dari 23 tahun. beliau memulai dakwah dari tanah kelahirannya yaitu di Mekkah. Dalam hal ini ada dua tahapan, tahap pertama yang dilakukan Rosulullah ﷺ adalah dakwah tertutup atau rahasia (sirriyah). Pada tahap, ini dilakukan secara diam-diam di lingkukan keluarganya sendiri dan sanak family, juga orang-orang terdekat beliau. Dan dakwah ini belangsung kira-kira selama 3 sampai 4 tahun. Hal ini dilakukan karena beliau sangat paham dengan karakter masyarkat Quraisy. Mereka bersedia berperang dan mati untuk mempertahankan kepercayaan mereka. Mereka akan menghukum dan menyerang orang-orang yang mencela keyakinan dan sembahan mereka. Karena itulah Beliau memilih dakwah secara sembunyi-sembunyi untuk menghindari ancaman dari bangsa Quraisy yang dapat menggagalkan misi dakwah beliau.

Dalam dakwah ini Rosulullah ﷺ berhasil merekrut belasan orang untuk memeluk islam. Mereka inilah yang saat ini kita kenal dengan sebagai penganut Islam awal (al-Shabiqun al-Awwalun). Rosulullah ﷺ bukan hanya mengajak mereka untuk masuk Islam, akan tetapi juga mengkader para sahabat yang waktu itu sudah masuk Islam untuk benar-benar membentengi diri mereka secara lahir maupun batin, sebelum nantinya dakwah tersebut keluar atau secara terbuka. Karena tentu tekanan dari masyarakat Quraisy akan sangat kuat manakala dakwah Rosulullah ﷺ sudah mulai terbuka nanti. Maka perlunya bimbingan intensif dari beliau untuk mempersiapkan diri mereka. Tempat dakwah yang sekaligus menjadi tempat pendidikan pertama pada zaman Rosulullah ﷺ adalah di rumah Arqom bin Abi al-Arqom yang letaknya di al-Safa dan kemudian disebut dar al-Arqom. Di sinilah beliau membimbing mereka dalam hal aqidah juga menghafal, menghayati dan mengamalkan ayat-ayat suci yang diwahyukan kepadanya.

Memasuki tahun ke empat kenabian (nubuwwah), Rosulullah ﷺ memulai dakwah tahap kedua yaitu dakwah secara terbuka (jahriyyah). Beliau mulai memperkenalkan Islam kepada masyarakat yang ada di Mekkah. Dan ini mendapat tantangan yang sangat hebat dari masyarakat mekkah khususnya kaum Quraisy. Mereka terus menekan dengan teror dan intimidasi kepada Rosulullah ﷺ dan pengikutnya yang waktu itu sangat sedikit. Akan tetapi dengan kekuatan iman, mereka justru tetap teguh dengan apa yang diajarkan Rosulullah ﷺ yaitu Islam walaupun konsekuensi yang sedang menanti mereka berupa kesulitan hidup dan bahkan harus mati. Keteguhan keimanan dari kaum muslimin waktu itu tak lepas dari suksesnya pengkaderan beliau yang membuat mereka semakin teguh dan kokoh dalam membela Islam.

Secara garis besar tahapan pengkaderan Rosulullah ﷺ yang ada di mekkah sebagai berikut : pemantapan aqidah, pembentukan syakhsiyah islamiyah dan pembentukan kelompok dakwah. Inilah tahapan pembinaan dan pengkaderan Rosulullah ﷺ yang terbilang sukses dan melahirkan generasi-generasi tangguh dan mempunyai daya juang yang tinggi.

Setelah melakukan dakwah di mekkah Rosulullah ﷺ berhijrah bersama para sahabat dan pengikutnya ke Madinah. Di madinah beliau begitu disambut dengan sangat baik, tidak seperti di mekkah yang mayoritas masyarakatnya menolak ajaran beliau. Ini karena Rosulullah ﷺ sudah memulai mendakwahkan Islam kepada sebagian penduduk madinah yang waktu itu melakukan ritual haji di ka’bah mekkah. Walaupun tidak banyak, setidaknya ada sekitar 12 orang penduduk madinah yang masuk Islam dan bersedia berjanjii kepada Rosulullah ﷺ untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, tidak mengumpat dan tidak memfitnah. Yang selanjutna ikrar atau perjanjian ini dikenal dengan ikrar/perjanjian aqobah yang pertama.

Kemudian setelah peristiwa ini Rosulullah ﷺ mengutus Mus’ab bin Umair ke Madinah untuk mengajarkan Islam di sana. Pada tahun berikutnya jumlah jama’ah haji dari madinah semakin banyak. Tercatat sebanyak 75 orang dari madinah yang menyatakan masuk Islam dan selanjutnya berikrar dan berjanji kepada Rosulullah ﷺ untuk beriman kepada Allah dan Muhammad ﷺ sebagai rosulNya juga membelanya sebagaimana mereka membela keluarga dan harta mereka. Yang selanjutnya ikrar dan perjanjian ini dikenal dengan ikrar/perjanjian aqobah kedua. Dan ini menjadi salah satu tanda babak baru penyiaran Islam yang dilakukan oleh Rosulullah ﷺ. dari sinilah mengapa beliau begitu disambut oleh masyarakat Madinah ketika beliau sampai di sana, karena berharap ada cahaya baru yang akan memasuki di madinah.

Di Madinah Rosulullah ﷺ juga meneruskan dakwah beliau dan tentunya tetap mengadakan pembinaan dan pengkaderan kepada para sahabat yang ada di sana. akan tetapi di Madinah tahapan-tahapan yang dilakukan Rosulullah ﷺ lebih luas dari yang ada di Mekkah. Bukan hanya dakwah dan pengkaderan saja melainkan juga pembentukan atau penerapan syari’at Islam, dan di sanalah daulah Islamiyah yang pertama diterpkan. Secara garis besar ada beberapa tahapan yang Rosulullah lakukan di Madinah antara lain : membangun masjid yang kemudian dikenal masjid Nabawi, membina ukhwah Islamiyah, mengatur urusan masyarakat dan syari’at Islam, mengatur perjanjian dengan warga non Muslim yang kemudian dikenal dengan perjanjian madinah dan perjanjian hudaybiyah, menyusun strategi politik dan militer dan yang terakhir adalah penerapan jidad.

Ini lah diantara tahapan-tahapan yang dilakukan Rosulullah di madinah sehingga menghasilkan Negara yang kuat, mempunyai generasi yang tangguh, baik itu secara keilmuan juga secara fisik (jihad) dan masyarakat yang harmoni. Semua itu tak lepas dari peran seorang pemimpin revolusioner Rosulullah ﷺ yang senantiasa memberikan teladan yang baik kepada umatnya, senantiasa komunikatif dan interaktif, juga tentunya dekat dengan umatnya dan tidak melupakan pembinaan dan pengkaderan kepada para sahabat sehingga menghasilkan generasi yang tidak jauh berbeda setelah peninggalan Beliau. Maka tidak berlebihan jika beliau bersabda yang artinya : berpegang teguhlah pada sunnahku, dan juga sunnah al-Khulafa ar-Rosyidin yang mendapatkan petunjuk (HR. Tirmidzi)

Ini menunjukkan Rosulullah sukses membentuk, membina dan mengkader para sahabat khususnya para al-Khulafa ar-Rosyidin, sehingga menjadikan mereka juga sebagai contoh selain Rosulullah, baik itu dari tingkah laku, perkataan juga fatwa-fatwa mereka.

 

akhukum fillah : Hidayaturrokhman

 

Advertisements