Mengenai penganiayaan, maka hal ini telah menimpa Nabi saw, meskipun berada dalam perlindungan kaumnya (keluarganya).

Begitu juga menimpa seluruh kaum Muslim yang menjadi pengikutnya. Mereka telah merancang berbagai cara untuk menimpakan penganiayaan, dan menggunakan semua jenis tindakan tersebut.

Keluarga Yasir telah disiksa dengan siksaan yang amat sadis agar mereka meninggalkan agamanya.

Siksaan itu tidak berpengaruh sedikit pun pada keluarga ini kecuali semakin mantapnya iman dan keteguhan mereka. Sewaktu mereka tengah menyiksa keluarga Yasir, Rasul saw lewat di depan mereka, seraya memberikan kabar gembira, “Sabarlah, wahai keluarga Yasir. Sesungguhnya tempat yang dijanjikan kepada kalian adalah Surga.

Sesungguhnya aku tidak memiliki apa pun dari Allah untuk kalian.” Saat Rasul mengatakan pada mereka bahwa tempat yang dijanjikan untuk mereka adalah surga, maka tidak ada yang dilakukan Sumayah, istri Yasir, kecuali berkata, “Sesungguhnya aku telah melihatnya dengan jelas, wahai Rasul.” Seperti itulah kafir Quraisy secara terus-menerus menyiksa Nabi dan para sahabatnya.

Ketika kafir Quraisy menyadari bahwa perlawanan terhadap dakwah dengan menggunakan cara tersebut tidak membawa hasil, maka mereka beralih dengan cara lain, yaitu dengan senjata propaganda memusuhi Islam dan kaum Muslim di mana-mana, baik di dalam kota Makkah maupun di luar Makkah, seperti di Habsyi.

Mereka menggunakan cara propaganda itu dengan segala bentuknya dan modelnya, seperti berdebat, menggugat, mencaci, melemparkan berbagai macam isu atau tuduhan.

Propaganda itu juga digunakan untuk menyerang akidah Islam dan para pemeluknya, membusuk-busukkan isinya dan menghina esensinya. Mereka melontarkan kebohongan-kebohongan tentang Rasul dan menyiapkan semua kata-kata yang ditujukan untuk propaganda memusuhi Muhammad, baik di Makkah maupun di luar Kota Makkah, terutama propaganda di musim haji.

Mengingat betapa pentingnya propaganda memusuhi Rasul bagi kafir Quraisy, maka sekelompok orang dari mereka berkumpul di rumah Walid bin al-Mughirah. Di rumah itu mereka bermusyawarah mengenai apa yang akan mereka katakan tentang Muhammad kepada orang-orang Arab yang datang ke Makkah di musim haji.

Sebagian mereka mengusulkan hendaknya Muhammad dicap sebagai seorang dukun. Namun, Walid menolaknya seraya mengatakan bahwa Muhammad itu tidak memiliki karakter dukun, baik gerak-gerik maupun gaya bicaranya.

Sebagian yang lain mengusulkan agar menuduh Muhammad sebagai orang gila. Usulan ini pun ditolak oleh Walid, karena tidak satu pun tanda-tanda yang menunjukkan Muhammad itu gila.

Sebagian lagi mengusulkan agar mencap Muhammad sebagai tukang sihir. Usulan ini juga ditolak oleh Walid, karena kenyataannya Muhammad tidak pernah meniupkan mantera-mantera sihir pada buhul-buhul tali, juga tidak pernah melakukan aksi penggunaan sihir sedikit pun.

Setelah mereka berdebat dan berdikusi, akhirnya sepakat untuk menuduh Muhammad sebagai tukang sihir lewat ucapan, lalu mereka membubarkan diri. Kemudian mereka menyebar di antara delegasi haji dari kalangan Arab untuk memperingatkan mereka supaya berhati-hati terhadap ucapan-ucapan Muhammad, karena dia seorang penyihir lewat ucapan; dan apa pun yang dia katakan adalah sihir yang dapat memisahkan seseorang dari saudara, ibu, bapak, istri, dan keluarganya.

Mereka juga menakut-nakuti siapa saja yang mendengarkan Muhammad maka akan terkena sihirnya yang dapat memisahkan dirinya dari keluarganya. Tetapi propaganda-propaganda tersebut tidak membawa hasil apa-apa dan tidak mampu menghalangi manusia dari dakwah Islam.

Lalu, mereka menemui Nadhir bin al-Harits dan menugaskannya untuk melakukan propaganda memusuhi Rasul saw. Nadhr melaksanakan tugas tersebut dengan cara setiap Rasul berada di suatu tempat untuk mengajak manusia kepada agama Allah, maka Nadhir mengambil tempat duduk di belakang majelis beliau, seraya mengisahkan kisah-kisah Persia dan agamanya.

Dia mengatakan, “Dengan apa Muhammad akan menceritakan sesuatu yang lebih baik dari kisahku. Bukankah dia hanya bercerita tentang orang-orang terdahulu seperti yang juga kulakukan?” Kaum Quraisy pun menggunakan kisah-kisah itu dan menyebarkannya di tengah-tengah masyarakat.

Mereka juga melontarkan isu bahwa apa yang Muhammad sampaikan tidak lain adalah ajaran yang pernah disampaikan oleh seorang pemuda tanggung Nasrani yang bernama Jabr dan bukan berasal dari sisi Allah. Isu tersebut terus menyebar luas dan banyak sekali yang terpengaruh, hingga Allah menolaknya dalam surat an-Nahl: 103:

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ ۗ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).’ Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajm, sedang al-Quran ini dalam bahasa Arab yang nyata.” (QS. an-Nahl : 103)

Advertisements