Agama islam muncul atau diturunkan diantara tumpukan-tumpukan budaya arab jahiliyah, yang mana kebudayaan mereka sarat dengan penyembahan-penyembahan berhala juga dunia mistik yang dalam islam ini dikenal dengan syirik. Ditengah kehidupan yang penuh dengan kesyirikan ini maka muncul lah islam yang dibawa oleh seorang yang dari kalangan mereka sendiri yaitu Muhammad bin Abdul Wahhab.

Islam adalah agama yang sempurna, penyempurna dari ajaran-ajaran sebelumnya, baik itu ajaran-ajaran yang datang dari kitab-kitab sebelumnya juga dari ajaran-ajaran kejahiliyaan. Allah berfirman dalam surat Al-Maidah yang artinya : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. al-Maidah: 3) dan bahkan Allah menguatkan dalam surat Al-Imron yang artinya : “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”. (QS. al-‘Imran: 19).

Dalam perkembangannya Islam tidak dipisahkan dengan sebuah budaya, akan tetapi Islam justru merangkul beberapa budaya sebelumnya. Ini dikarenakan ajaran-ajaran Islam penuh dengan kemaslahatan bagi manusia, yang tentunya juga mencakup segala aspek kehidupan manusia. Dan kebudayaan adalah salah satu dari sisi penting dari kehidupan manusia, dan Islam pun telah mengatur dan memberikan batasan-batasannya.

Untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara Islam dengan budaya, banyak pertanyaan-pertanyaan yang harus kita jawab berkaitan dengan ini, misalkan : apa itu budaya ? mengapa manusia cenderung memelihara kebudayaan ? dari manakah desakan yang menggerakkan manusia untuk berkarya, berpikir dan bertindak ? apakah yang mendorong mereka untuk selalu merubah alam dan lingkungan menjadi lebih baik?

Berbicara tentang budaya, klo kita melihat kamus besar bahasa Indonesia hal. 149 disebutkan bahwa : budaya adalah pikiran, akal budi, adat istiadat. Sedang kebudayaan adalah hasil dan penciptaan batin (akal budi) manusia, seperti kepercayaan, kesenian dan adat istiadat. Ahli sosiologi mengartikan kebudayaan dengan keseluruhan kecakapan (adat, akhlak, kesenian, ilmu, dll). Sedang ahli sejarah mengartikan kebudayaan sebagai warisan atau tradisi. Bahkan ahli antropologi melihat kebudayaan sebagai tata hidup, way of life dan kelakuan.

Ini lah beberapa makna atau apa itu budaya menurut beberapa ahli. Nah sekarang bagaimana Islam sendiri menanggapi tentang budaya atau kebudayaan ini ?

Islam adalah agama yang sempurna dan diridhai Allah, sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-Maidah : “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah aku ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. al-Maidah: 3). Dalam surat yang lain Allah juga berfirman : “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam”. (QS. al-‘Imran: 19). Dalam perkembangan sebenarnya Islam tidak dapat dipisahkan dengan budaya, bahkan islam merangkul budaya-budaya tertentu untuk menyampaikan ajarannya. Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kehidupan yang baik dan seimbang. Dengan demikian Islam datang bukan untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu kaum atau masyarakat, akan tetapi Islam juga merangkul budaya yang berkembang dan kemudian mengajarkan kepada mereka mana dari kebudayaan tersebut yang membawa manfaat dan mudharat dalam kehidupan, sehingga menjadikan kehidupan manusia lewat budaya tersebut dapat berkembang menjadi kebudayaan yang beradap dan berkemajuan serta mempertinggi derajat manusia.

Hal ini juga sesuai dengan Undang-undang Dasar Negara Indonesia pasal 32 yang berbunyi : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “.

Dari sini Islam membagi budaya menjadi tiga macam :

Pertama : kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam, yang dalam kaidah fiqih disebutkan al adatu muhakkamatun. artinya bahwa adat istiadat dan kebiasaan suatu masyarakat dalam hal ini bisa diartikan kebudayaan masyarakat dapat mempengaruhi dalam penentuan hukum. Akan tetapi yang perlu dijadikan catatan bahwa kaidah tersebut bisa berlaku dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat Islam yang telah ada, misalkan kadar besar kecilnya mahar dalam suatu pernikahan, dalam masyarakat aceh atau Kalimantan misalkan keluarga wanita biasanya menentukan mas kawin yang tinggi, bahkan dalam masyarakat Arab sendiri juga banyak yang menetapkan mahar yang tinggi. Dan ini adalah salah satu budaya yang berkembang di sebagian daerah, dan ini diperbolehkan karena dalam syariat sendiri tidak ada batasan dalam menentukan kadar mahar tersebut.

Kedua : kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentanan dengan Islam, kemudian direkontruksi sehingga menjadi islami. Sebagai contoh yang paling jelas adalah tradisi masyarakat jahiliyah yang melakukan ritual mengelilingi ka’bah dengan telanjang dan mengucapkan lafads “talbiya” yang sarat akan kesyirikan. Kemudian Islam datang untuk merekonstruksi budaya tersebut menjadi bentuk “ibadah” yang telah ditetapkan aturan-aturannya, yang dalam Islam dikenal dengan Ibadah Haji.

Ketiga : kebudayaan yang bertentangan dengan Islam. Salah satu contohnya adalah budaya “ngaben” yang dilakukan oleh masyarakat Bali. Yaitu upacara pembakaran mayat yang diselenggarakan dalam suasana yang meriah dan gegap gempita juga dengan acara besar-besaran. Ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan bagi orang yang meninggal supaya kembali kepada penciptanya. Budaya pembakaran mayat tersebut juga ada di masyarakan Kalimantan tengah dengan nama “tiwah”, bedanya dalam “tiwah” ini dilakukan pemakaman jenazah yang berbentuk perahu lesung terlebih dahulu, yang kemudian kalau sudah tiba waktunya jenazah tersebut akan digali lagi lalu dibakar.

Hal di atas adalah salah satu contoh budaya-budaya yang bertentangan dengan Islam, yang kalau kita cermati masih banyak lagi budaya-budaya yang serupa yang masih dilakukan dalam masyarakat. Budaya-budaya tersebut jelas kita sebagai seorang muslim dilarang untuk mengikutinya, selain karena bertentangan dengan syariat Islam juga karena kebudayaan semacam itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat manusia, khususnya bangsa Indonesia.

Hal-hal di atas merupakan sebagian contoh kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam tidak dibolehkan mengikutinya. Islam melarangnya, karena kebudayaan seperti itu merupakan kebudayaan yang tidak mengarah kepada kemajuan adab, dan persatuan, serta tidak mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia, sebaliknya justru merupakan kebudayaan yang menurunkan derajat kemanusiaan. Karena mengandung ajaran yang menghambur-hamburkan harta untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan menghinakan manusia yang sudah meninggal dunia.

Dalam hal ini al Kamal Ibnu al Himam, salah satu ulama besar madzhab hanafi mengatakan :“Sesungguhnya nash-nash syariat jauh lebih kuat daripada tradisi masyarakat, karena tradisi masyarakat bisa saja berupa kebatilan yang telah disepakati, seperti apa yang dilakukan sebagian masyarakat kita hari ini, yang mempunyai tradisi meletakkan lilin dan lampu-lampu di kuburan khusus pada malam- malam lebaran. Sedang nash syareat, setelah terbukti keabsahannya, maka tidak mungkin mengandung sebuah kebatilan. Dan karena tradisi, hanyalah mengikat masyarakat yang menyakininya, sedang nash syare’at mengikat manusia secara keseluruhan., maka nash jauh lebih kuat. Dan juga, karena tradisi dibolehkan melalui perantara nash, sebagaimana yang tersebut dalam hadits : “ apa yang dinyatakan oleh kaum muslimin baik, maka sesuatu itu baik “

Dari situ, jelas bahwa apa yang dinyatakan oleh Dr. Abdul Hadi WM, dosen di Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina, Jakarta, bahwa Islam tidak boleh memusuhi atau merombak kultur lokal, tapi harus memposisikannya sebagai ayat-ayat Tuhan di dunia ini atau fikih tidak memadai untuk memahami seni, adalah tidak benar. Wallahu a’lam

Akhukum fillah Hidayaturrokhman

Advertisements