Saat kita mendengar akan kata peradaban atau perubahan dan juga kejayaan, tentu di sana akan kita dapati sosok-sosok yang luar biasa, penuh semangat dan tak kenal rasa takut. Kalo kita memperhatikan lebih dalam lagi dari mereka banyak yang dari kalangan generasi muda. Aksi-aksi heroik mereka menjadi tulang inti dari sebuah perjuangan. Hal ini sesuai dengan Firman Allah : “Allah, Dia yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudia Dia menjadikan suatu yang kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehandakiNya. Dan Dialah yang Maha Mengetahu lagi Maha Kuasa”. (QS. ar-Ruum : 54)

Dalam ayat diatas Allah menjelaskan bahwa masa muda menjadi masa keemasan dan kekuatan, sebelum nantinya akan dikembalikan lagi dalam keadaan lemah kembali (masa tua). Tapi tidak semua orang bisa memanfaatkan masa muda nya dengan sebaik mungkin, sehingga menghasilkan begitu banyak karya dan punya daya juang yang tinggi.

Dalam perjalanan sejarah Islam tak luput dari generasi muda. Perjuangan Islam banyak diisi oleh para pemuda, baik itu dalam dakwah ataupun dalam peperangan. Kalau kita flash back pada masa sekitar 1400 tahun yang lalu, lahir seorang dari kalangan kaum Quraisy yang bernama Muhammad. Ia tumbuh menjadi seorang pemuda yang jujur dan amanah, sehingga warga Quraisy memberinya julukan al-Amin. Muhammad yang hidup pada masa kebodohan umat, kompleksitas problem sosial-ekonomi dan friksi politik antar kabilah yang sangat kuat. Namun dia melawam segala problematika yang ada pada waktu itu bukan dengan senjata, kekuasaan ataupun harta, melainkan dengan akhlaq yang mulia (akhlaqul karimah), Ia seorang yang santun dan pengasih, hingga mampu mengubah permusuhan menjadi persaudaraan, kebodohan menjadi kepintaran, kekafiran menuju keislaman. Allah berfirman dalam hal ini : “sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rosul dari kaum mu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (QS. at-Taubah : 128)

Dalam surat al-Burj dikisahkan tentang ashabul uhdud, mereka adalah sekelompok pemuda yang berontak melawan kekuasaan kuffar yang zalim di tengah ketidak berdayaan masyarakat waktu itu, tertangkap bukan menjadi akhir dari perjuangan, justru disitulah puncak perlawanan. Ketika parit api membakar tubuh mereka, justru pemandangan ini lah yang membakar kembali semangat keberanian dan perlawanan masyarakat yang sudah putus asa. Rakyat banyak ikut ke dalam parit, meninggalkan sang raja yang tidak berarti kekuasaanya.

Dalam surat al-Kahfi juga dikisahkan tentang beberapa pemuda yang sembunyi di dalam gua karena ingin menghindari dari kejaran pengawal penguasa dzolim yang ingin membunuh mereka. Para pemuda ini yang kemudian dikenal dengan ashabul kahfi, Ashabul kahfi adalah sekelompok pemuda yang beriman dan tidak suka dengan sikap penguasa yg dzalim di negara mereka, penguasa tersebut bertindak semena-mena dan membunuh orang-orang yang tidak mau ikut dengannya. Dan tentu di sini orang-orang yang tidak mau tunduk kepada penguasa tersebut adalah orang-orang yang beriman, Para pemuda ashabul kahfi ini dari sekian orang beriman yang benar-benar tidak mau tunduk kepada penguasa tersebut, oleh karenanya mereka dicari untuk dibunuh, hingga akhirnya mereka sembunyi di dalam gua, dengan izin Allah mereka ditidurkan oleh Allah selama 309 tahun tapi yg mereka rasakan adalah tidur sehari semalam saja, subhanallah.

Begitupun dengan kisah para nabi semasa mudanya. Kepintaran dan kepribadian kuat seorang pemuda yang bernama Yusuf mampu mengatasi krisis ekonomi yang berkepanjangan di Mesir. Keberanian pemuda bernama Musa yang mampu menumbangkan Fir’aun, raja sombong yang menganggap dirinya adalah Tuhan. Kejeniusan seorang pemuda bernama Ibrahim yang mampu membuat Namrud diam serta malu atas kebodohannya menyembah berhala, dan yang jelas masih banyak kisah-kisah para Nabi yang pada saat mudanya dapat menjadi inspirasi buat kita, khususnya generasi muda saat ini.

Dimanapun tempatnya pemuda, mereka pasti yang akan berteriak paling lantang dan berani saat menemui ketidak adilan. Di Hungaria, revolusi menuntut kemerdekaan, kebebasan dan pengusiran Uni Soviet dimotori oleh Dewan Mahasiswa Revolusioner, melalui Manifesto mereka berhasil menghimpun 100 ribu masa pada 23 Oktober 1958 di lapangan Petofi. Mahasiswa Jerman, dalam sejarahnya di abad 19 memiliki tradisi sebagai ujung tombak politik dan sebagai elit nasional. Persatuan bangsa jerman yang terhimpun dalam Burschenschaften. Begitu juga aksi para pemuda yang terhimpun dalam barisan mahasiswa Mesir yang melakukan demonstrasi ke istana Abidin yang dipimpin oleh Mustofa Mukmin (pimpinan mahasiswa Ikhwanul Muslimin) pada 11 februari 1946, yang mana berhasil menjatuhan perdana menteri Naqraisy.

Di penghujung abad ke 20, gerakan-gerakan pemuda khususnya pemuda Islam menjadi sayap kekuatan pergerakan Islam (harakah Islamiyah) juga berperan dalam menumbangkan rezim-rezim otoriter. Dengan mengusung bendera demokrasi dan reformasi, mereka tampil sebagai kekuatan penekan yang diperhitungkan. Dengan ideologi dan fikrah islamnya, para pemuda Islam banyak mempengaruhi dinamika perubahan sosial dan politik di negerinya. Ini juga yang terjadi di Indonesia pada akhir tahun 90 an.

Jika kita lihat pada zaman modern ini, sering kali kita dihadapkan kepada sebuah pemandangan ironis. Sebuah generasi yang menjadi tumpuan masa depan, mestinya tampil menjadi pengusung harapan yang menggembirakan. Akan tetapi, saat ini mayoritas generasi muda semangatnya untuk berjuang atau berkarya tidak sedahsyat pada masa lampau, bahkan terkesan hilang. Mereka lebih mudah terperosok dalam lumpur budaya yang menyesatkan, terlena dengan berbagai tradisi yang jauh, bahkan bertentangan dengan ajaran Islam. Hura-hura, pergaulan bebas antar lawan jenis, hingga meremehkan atau bahkan melupakan kewajiban-kewajiban agama. Maraknya teknologi, dengan mudahnya informasi yang didapat tidak membuat mereka lebih berkembang dari generasi terdahulu yang jelas-jelas tidak didukung dengan teknologi yang memadai. Akan tetapi semangat juang dan berkarya generasi terdahulu jelas mengungguli generasi pada era yang banyak orang bilang kekinian ini.

Memang dalam kondisi yang seperti ini, masih kita dapati sejumlah pemuda yang teguh memegang prinsip-prinsip keagamaan, sehingga setidaknya mampu menjaga diri dari pengaruh-pengaruh budaya yang tercela di atas. Akan tetapi jumlah mereka terlalu sedikit bila dibandingkan dengan kelompok pertama, sehingga seakan-akan tidak nampak sisi kebaikan dari sebagian pemuda tersebut.

Kalau kita perhatikan iklan-iklan yang ada di media massa, baik itu televisi, radio, Koran ataupun yang lainnya, mereka dengan gencar mengkampanyekan “SAY NO TO DRUG”. Narkoba begitu marak akhir-akhir ini, walaupun narkoba sudah ada sejak lama. Dan yang paling mengejutkan bahwa sasaran mereka (pengedar) adalah generasi muda, dimulai dari remaja yang notabenenya secara psikologi mereka masih labil. Terus menyebar antar sekolahan, antar kampus, juga masuk pada tingkat pemerintahan. kasus narkoba yang merebak di area sekolahan telah memakan korban, seorang siswa terbukti membawa sabu-sabu sesaat sebelum ia melaksanakan UAN. Sabu-sabu itu rencananya akan ia sebarkan kepada beberapa temannya setelah mengerjakan UAN. Beruntuk pihak sekolahan bisa menangkap sebelum barang haram itu sempat disembarkan. Ada juga kasus yang lebih menghebohkan lagi, seorang bupati muda yang ada di daerah Sumatera Selatan, tertangkap tangan tengah melakukan pesta sabu dengan beberapa temannya. Yang lebih miris adalah ternyata bupati tersebut termasuk bupati termuda di Indonesia, yang saat ini umurnya masih 30 tahun. Benar-benar sebuah tindakan yang tidak patut untuk ditiru dari seorang pemimpin, saat-saat di mana seorang pemimpin memikirkan akan nasib rakyatnya, akan tetapi di sini yang ada adalah sebuah pesta sabu-sabu. Ini adalah salah satu bukti betapa terpuruknya generasi muda saat ini, generasi yang seharusnya berada pada barisan terdepan dalam berjuang, akan tetapi ini sebaliknya, mereka terlena akan gemerlapnya dunia yang penuh dengan tipu daya, yang membuat mereka bukan saja masuk pada barisan terbelakang dalam perjuangan, tapi justru mereka mungkin tidak berhak untuk masuk dalam barisan perjuangan tersebut.

Tentu saja fenomena ini tidak boleh terjadi terus menerus atau kehancuran umat ada di depan mata. Akhirnya kita sebagai seorang pemuda yang sadar akan tanggung jawab dan beban moral yang diberikan, kita harus bisa memperbaiki diri dan mengajak kembali khususnya para pemuda-pemudi muslim untuk berada dalam koridor yang benar sesuai syari’ah. Ir. Soekarno pernah memberian statemen yang fenomenal : “berikan aku sepuluh pemuda, niscaya aku akan merubah dunia”. Ini merupakan bentuk support penuh soekarno kepada pemuda, karena memang pemuda menjadi tumpuan pada masa depan.

  1. A’idh al-Qorni dalam bukunya “jadilah pemuda KAHFI” memberikan nasihat khusus buat para generasi muda. Ada 4 perkara yang wajib dipenuhi oleh generasi muda untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat ; pertama adalah menjadikan Allah sebagai pengawas terhadap ilmu, kedua adalah sebagai penuntut ilmu harus menampakkan efek-efek ibadah, ketiga adalah menghidupkan sunnah Rosulullah dalam kehidupan sehari-hari, dan yang keempat adalah senantiasa menjaga waktu supaya jangan sampai terbuang dengan sia-sia.

Mari kita jadikan kisa-kisah teladan terdahulu, khususnya generasi-generasi muda yang telah mencapai kesuksesannya dalam membela negara atau agama Islam, semoga hal ini memberikan manfaat dalam kehidupan kita, sehingga menjadi bekal yang paling baik bagi Islam di masa yang akan datang. Wallahu A’lam Bissowab.

oleh : Hidayaturrokhman

Advertisements