Sebagaimana yang diterangkan oleh ahli ilmu dan tauhid, ikhlas adalah mengharap ridho Allah dalam amal shalihnya. Aku berusaha mencari apa sebetulnya indikator keikhlasan seseorang, sehingga aku bisa mengetahui bahwa seseorang telah ikhlas ataukah tidak. Maka kudapati perkataan sebagian salaf –rahimahullah- tentang hakikat istighfar sebagai ukuran hakikat keikhlasan dengan sebuah nasihat, “Siapa yang melihat bahwa dirinya telah beristighfar maka istighfarnya membutuhkan istighfar lagi”. Begitupun ikhlas siapa yang melihat bahwa dirinya telah ikhlas maka keikhlasannya masih butuh keikhlasan lagi.

فحقيقة الإخلاص أن يبقى المسلم في صراع مع نفسه، يتّهمها بضده إلى أن يلفظ آخر أنفاسه من هذه الدنيا

“Hakikat keikhlasan adalah seorang muslim senantiasa mengalami konflik dalam batinnya, yang membuat merasa dirinya belum ikhlas dalam melakukan amal sampai ia meninggal dunia.”

Bahkan dia takut dan khawatir telah melakukan kesyirikan dalam niat atau keinginannya. Sebagaimana dalam firmanNya:

  [Al-Mukminun 60] {وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ}

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS: Al Mukminun (23) : 60).

Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam membaca surat Al Mukminun:

57. Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka,

58. dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka,

59. dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apapun),

60. dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,

61. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (QS: AL_MUKMINUN 57-61)

‘Aisyah bertanya, “Apakah mereka adalah orang-orang yang mencuri, berzina dan minum minuman khamr?”. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam menjawab, “Tidak wahai puteri As Shiddiq, mereka adalah orang-orang yang sholat, berpuasa, bersedekah, akan tetapi mereka takut kalau amal mereka itu tidak diterima di sisi Allah. Mereka itulah orang-orang yang bersegera kepada kebaikan. [Shahih At Tirmidzi No: 3175, perawi hadith: Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha].

فضيل بن عبيد الأنصاري و هو من المشتركين بيعة الرضوان.

لأن أكون أعلم أن الله قد تقبل مني مثقال حبة من خردل أحب إلي و ما فيها. لأن الله يقول “إنما يتقبل الله من المتقين” ( المائدة : 27)

Fudhail bin Ubaid Al Anshori, salah seorang peserta Bai’atu Ridwan berkata, “Andai aku tahu bahwa Allah menerima dari amalku seberan biji sawi, itu lebih aku cintai dari dunia dan seisinya. Karena Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima amal orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al Maidah: 27).

Ini contoh dari sahabat yang tawadhu’, RadhiyaAllahu ‘anhum wa radhuu ‘anhu (Allah ridha kepada mereka, mereka ridho kepada Allah). Beliau tidak serta merta ujub, sombong dan bangga dengan amalnya. Akan tetapi merasa takut. Dan ini seharusnya menjadi cermin bagi kita agar kiranya kita tidak terjebak dalam bangga diri terhadap amal-amal itu.

عبد العزيز بن الرواد (التابعين) : أدركت هم يجتهدون في العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهمّ أيقبل منهم أم لا؟

Abdul Aziz bin Ar Ruwad (seorang tabiin) berkata, “Aku melihat orang-orang soleh bersungguh-sungguh dalam beramal, namun setelah mereka mengerjakannya mereka takut kalau-kalau amal itu tidak diterima di sisi Allah”.

Inilah hakikat ikhlas yang membuat pelakunya tidak pernah merasa aman walau barang sejenak dari apa pun yang mengganggu keikhlasan. Suatu hari ada seorang salaf [1] yang didatangi syaithan saat sakarat mautnya dalam wujud seorang laki-laki lalu berkata, “Aku telah terkalahkan oleh wahai Fulan.. Aku telah terkalahkan!” Ucapan ini disampaikan syaithan untuk memasukkan ujub dan tipu daya ke hati orang yang sekarat tersebut, supaya dia tergelincir di akhir hayatnya. Sang imam berkata, “Tidak! Belum! Belum! Sampai aku mati!”. Maksudnya adalah aku tidak akan merasa aman selama ruhku belum sampai ke kerongkongan. Allahu akbar! Itu adalah imam di dunia ini, imam Ahlussunnah, Syaikh yang tegas dan juga yang paling toleransi, syaikh Islam, pemimpin kaum muslimin dalam hadith shahih, Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal As Syaibani wafat tahun 241 H, rahimahullah ta’ala, merasa takut tergelincir dan jatuh terperosok dalam ujub meski dalam saat-saat rumit dan kritis seperti itu.

Ahli ilmu tidak pernah menyebut diri mereka adalah hamba-hamba Allah yang ikhlas dalam beribadah kepadaNya. Yang kumaksud tentang ikhlas adalah suatu karunia yang menyebabkan pelakunya senantiasa beramal baik siang maupun malam, secara rahasia maupun terang-terangan. Ikhlas akan memberikan manfaat disetiap waktu atas izin Allah ta’ala:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”. [Ibrahim/14 : 24-25.

Akhirnya, keikhlasan adalah sesuatu yang terus diperjuangkan dalam setiap amal shalih yang dikerjakan, dengan terus memohon kepada Allah ta’ala, dan Dilah pula yang mengetahui siapa yang paling ikhlas dan bertaqwa. Sebagaimana firmanNya:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖهُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An Najm: 32).

###

Diterjemahkan dan dikembangkan dari web Multaqa Ahlil Hadith, dengan judul, “Ya Akhi Is’alu Nafsak Hal Anta Mukhlis?”. Oleh: Achmad Tito Rusady.

___________

[1] Kisah ini ditakhrij oleh Al Hafiz ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq (5/325) dari Abdullah dan Sholeh keduanya adalah putera Al Imam Ahmad, disebutkan dalam Al Qurtubi dalam At Tadzkiroh, hl. 38. Syaikh Islam Ibnu Taymiyah juga menyebutkan dalam Majmu’ Al Fatawa (4/256), beliau berkata kisah ini sangat terkenal. Juga disebutkan dalam Ibnu Katsir 10/341

Advertisements